Connect with us

Advertorial

Kembangkan Potensi SDA, Kemenko Maritim Segera Bangun Ini di Natuna

Diterbitkan

Pada

GDN Online, Natuna- Untuk mengembangkan potensi Kabupaten Natuna, Tim kerja Kemenko Bidang Maritim ke Natuna untuk mengumpulkan berbagai bahan dan informasi terkait upaya pengembangan ekonomi daerah melalui pemberdayaan potensi maritim di Kabupaten Natuna.

“Kondisi geografis Kabupaten Natuna yang berada di jalur pelayaran Internasioal yang padat, memiliki  potensi daerah di sektor pariwisata, perikanan dan kemaritiman. Pada sektor perikanan, saat ini pengembangan potensi tersebut mendapatkan perhatian khusus terutama dari Kemenko Maritim. Selain itu, potensi migas daerah juga sangat besar, dimana kandungan cadangan minyak sebesar 11 milliar barel dan 190 triliun kaki kubik kandungan cadangan gas alam.” Jelas Asiten 1 pemkab Natuna, Tasrif Amran. Senin (22/4) dihadapan Tim Kemenko Maritim.

Mengingat besarnya potensi daerah yang dimiliki Kabupaten Natuna, Tasrif sangat berharap hal diatas dapat menjadi modal pembangunan daerah, peluang lapangan kerja serta upaya peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Kepala Bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan Energi, Ridho Yasser menerangkan bahwa salah satu langkah yang akan dilakukan oleh Kemenko Maritim adalah memaksimalkan potensi ekonomi, melakukan koordinasi dan sinergi serta pengawasan dan pengendalian terkait kebijakan yang bersifat terapan dalam mengembangkan budaya maritim di seluruh wilayah NKRI.

“Fokus kami saat ini adalah mencari sumber energi untuk mendukung berbagai aktifitas pengembangan potensi daerah, seperti perikanan, sehingga dalam pengelolaannya dapat berjalan secara lebih mudah, produktif dan memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat khususnya di Kabupaten Natuna.” jelas Ridho Yasser.

Pada awal April 2019 Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyatakan akan membuat pangkalan ikan di Natuna. Kebijakan ini diambil untuk mendorong ekspor ikan tuna yang saat ini Indinesia menempati urutan teratas pengeskspor ikan tuna dunia .

Menurut Luhut pemilihan lokasi di Natuna sebagai lokasi pembangunan karena letaknya strategis, serta memiliki potensi produksi ikan tuna yang melimpah.

“Kita mau integrasikan pangkalan perikanan itu untuk nanti dia bisa menangkap ikan dari pantai-pantai nelayan dari pantai Utara Jawa di sana. Banyak kan tuh tuna-tunanya,” ujar Luhut di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Jumat (1/2/2019) seperi dikutip dari detik finance.

Pangkalan ikan tersebut juga akan dilengkapi dengan mesin pendingin atau cold storage, pelabuhan pengisian minyak hingga keimigrasian, sehingga bisa memudahkan nelayan melaut.

“Itu menyiapkan pangkalan di situ mulai dari cold storage, pelabuhan pengisian minyak, keimigrasian, angkatan laut keamanannya, ya semua terintergarsi di Natuna,” sambung dia.

Staf Ahli Kemenko Maritim, Atmaji mengatakan rencana tersebut juga sebagai salah satu langkah mengintegrasi produksi ikan yang satu dengan yang lain. Dengan begitu, ekspor ikan Indonesia akan meningkat tajam.

“Selama ini kan belum terintegrasi dan harapannya terintegrasi supaya bisa ekspor ke luar negeri lebih mudah dan lancar,” paparnya.

Untuk mendukung rencana ini bahkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memanggil Pertamina, Kementerian Keuangan hingga pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan. Mereka akan membahas terkait tata ruang perikanan di Natuna.

Tampak Direktur Hulu PT Pertamina Dharmawan Samsu datang mengiktinrapat Jumat (01/04) pada pukul 16.50 WIB. Kemudian disusul Sekretaris Jenderal KKP Nilanto pada pukul 16.55 WIB serta Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo pukul 17.10 WIB.

Selaian membangun pangkalan perikanan untuk genjot ekspor ikan tuna dari Natuna Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman juga mendorong percepatan pembangunan wisata bahari di Natuna. Salah satunya rencana pembangunan kawasan marina yang akan menjadi pelabuhan khusus untuk bersandarnya kapal pesiar atau yacht.

“Ada jutaan yacht di dunia ini. Para yacht ini banyak yang ingin singgah di pulau-pulau yang ada di Indonesia untuk menikmati keindahan alam, budaya, dan juga kulinernya, Natuna punya potensi itu,” kata Deputi Sumber Daya Alam dan Jasa, Agung Kuswandono, melalui keterangan resmi yang dikutib dari Republika.

Agung menyebutkan salah satu prasyarat utama agar kapal yacht banyak bersandar di Indonesia adalah dengan dengan membangun marina. Namun kenyataannya, tambah Agung, Indonesia hingga saat ini baru memiliki tiga hingga empat marina yang representatif.

Ini sangat disayangkan, mengingat tarif parkir yacht rata-rata 100-300 dolar AS per hari yang tentu akan mendatangkan pemasukan besar bagi keuangan negara. Indonesia setidaknya membutuhkan sekitar 100 marina baru.

“Untuk itu Indonesia harus tanggap melihat potensi besar ini. Kita harus mengusahakan agar kapal yacht tersebut bisa parkir lama di Indonesia. Bayangkan saja, satu hari mereka bersandar itu harus membayar 100-300 dolar AS”, terang Agung.

Pembangunan infrastruktur marina harus dilengkapi dengan prasarana pendukung, mulai dari listrik, persediaan air bersih, SPBU, akses jalan, tempat penginapan, tempat perbaikan kapal, minimarket, pusat kuliner, dan sarana pendukung lainnya.

Asisten Deputi Jasa Kemenko Maritim, Okto Irianto mengatakan keuntungan pembangunan marina tidak hanya dari tarif parkir yacht. Keuntungan terbesarnya justru adalah memberikan dampak ekonomi langsung terhadap masyarakat.

“Untuk membersihkan kapal yacht, misalnya, kita bisa mengusahakan agar dilakukan oleh anak-anak muda di daerah marina yang dibangun tersebut. Kemudian kebutuhan makanan bisa disediakan oleh Ibu-ibunya. Kebutuhan akan penyediaan jasa laundry, hinggga transportasi juga bisa disediakan oleh masyarakat”, kata Okto.

Okto mengungkapkan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019, pemerintah menargetkan membangun 100 marina. Namun dalam kenyataannya sepanjang empat tahun ini, Indonesia baru bisa membangun satu marina saja. Investor, infrastruktur dan prosedur yang rumit dinilai menjadi penyebab lambannya pembangunan marina ini.

Untuk mengejar target tersebut, forum dalam Rapat Koordinasi yang diadakan oleh Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam mengusulkan pembuatan marina skala kecil yang disebut juga dengan marina desa. Menurut Okto, marina desa cukup efektif karena pembangunannya tidak memerlukan dana yang besar serta bisa dilakukan secara cepat.

Okto menjelaskan, marina desa ini prinsipnya bisa dibangun dengan mengembangkan dermaga-dermaga rakyat yang sudah ada. Hanya tinggal menambah beberapa infrastruktur atau sarana pendukung saja seperti floating dock, jembatan, rambu-rambu, dan mooring buoy.

Menurut Okto dana yang diperlukan untuk menambahkan infrastruktur tersebut setelah dihitung  berkisar maksimal hanya Rp 3 miliar. Dengan demikian hal ini sangat dimungkinkan untuk dilakukan di tingkat kabupaten.  (red)

 

 

Top News


Penerbit dan Pengelola : PT Garda Nusantara Intermedia | Akta No. 09 tanggal 21 Desember 2017 Notaris: Raden Dian Nugroho Kusuma, SH, M.Kn
Pengesahan Kemenkum HAM :No AHU 0058430. AH. 01.01 Tahun 2017
Alamat Redaksi/Usaha: Komplek Citra Batam Blok C. No.18 Kel Teluk Tering – Batam Kota, Kepulauan Riau
Perwakilan Natuna – Jl. Datok Kayo Wan Mohamad Rasyid No 2 Ranai, Kabupaten Natuna Propinsi Kepri Telpon 0773-31630 Kodepos 29711
copyright © 2006 - 2017 . Keseluruhan Hak Cipta dilindungi Undang-undang | http://gardanunsantaraonline.com

Lewat ke baris perkakas